Kekuasaan Melindas Ulama

Di Balik Kelambu 1

Di Balik Kelambu 2

Di Balik Kelambu 3

Di Balik Kelambu 4

Kekuasaan Melindas Ulama

Acrylic di atas kanvas, 90 x 120 cm

Lukisan “Kekuasaan Melindas Ulama” karya Ahmad Tohari pernah diikutkan dalam pameran seni rupa bertajuk “Mata Seni Wali-Wali Nusantara” yang digelar di Jogja National Museum pada 27-30 Juli 2015.

Ruang Tengah

Info Foto

Bagian 1: Mukadimah

Info Foto

Bagian 2: Pemetik Cerita

Info Foto

Bagian 3: Magnum Opus: Ronggeng Dukuh Paruk

Info Foto

Bagian 4: Kayon

Kumpulan Surat Ahmad Tohari

Swafoto Ahmad Tohari

Tahun: 1979

 

Potret keluarga Ahmad Tohari di Pejompongan, Jakarta Pusat. Kakak (kiri), kakek (tengah), ibu (kanan), kakak (bawah kiri), serta keponakan Ahmad Tohari

Tahun: 1986

 

Ahmad Tohari berada di depan mesin tik ruang redaksi Majalah Amanah yang terletak di Jl. Kramat IV No. 18, Kwitang, Senen, Jakarta Pusat.

Tahun: 1994

 

Foto Ahmad Tohari di rumahnya, Desa Tinggarjaya, Kecamtan Jatilawang, Kabupaten Banyumas.

Tahun: 2000 

 

Ahmad Tohari beserta istri dan cucu-cucunya berpose sedang menaiki becak di halaman rumahnya. Foto ini diabadikan oleh sastrawan, Seno Gumira Ajidarma.

Iowa 10 Oktober 1990

Your browser does not support the audio tag.

Mekah 10 Juli 1988

Your browser does not support the audio tag.

Swafoto Ahmad Tohari

1972. Ahmad Tohari swafoto menggunakan kamera analog Canonet Gen 2 di kediamannya di Desa Tinggarjaya, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas.

Ruang Tengah

Ronggeng Dukuh Paruk 1982 - 1986

Di Kaki Bukit Cibalak (1979)

Kubah (1981)

Ronggeng Dukuh Paruk (1982-1986)

Bekisar Merah (1993)

Lingkar Tanah Lingkar Air (1995)

Belantik (2001)

Orang-orang Proyek (2002)

Esai

Alquran dan Terjemahannya: Bahasa Jawa Banyumasan (2016)

Cerpen

Mesin Tik

Kamus Dialek Banyumas-Indonesia (2014)

Pidato Kebudayaan

Majalah ANCAS

Cover Novel Ronggeng Dukuh Paruk 1982 - 1986
Kliping Ronggeng Dukuh Paruk dari Harian Kompas

Ronggeng Dukuh Paruk

Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk terdiri dari Ronggeng Dukuh Paruk: Catatan Buat Emak (1982), Lintang Kemukus Dini Hari (1985), dan Jantera Bianglala (1986). Novel ini telah diterjemahkan dalam beberapa bahasa, yakni Jepang, Belanda, Jerman, Inggris, Banyumas.

Sebelum diterbitkan menjadi buku, Ronggeng Dukuh Paruk: Catatan Buat Emak, dipublikasikan pertama kali sebagai cerita bersambung (cerbung) di harian Kompas pada tahun 1981.

 

*Geser gambar untuk beralih lampiran gambar

Di Kaki Bukit Cibalak

Tahun: 1979  

 

Di Kaki Bukit Cibalak mengisahkan budaya korup di pedesaan. Seorang pemuda mengalami konflik dengan lurah.

Novel ini ditulis oleh Ahmad Tohari pada tahun 1978 untuk diikutsertakan pada Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta dan berhasil meraih penghargaan di ajang tersebut tahun 1979. Novel Di Kaki Bukit Cibalak baru diterbitkan dalam rupa buku tahun 1986 oleh Pustaka Jaya.

Kubah

Tahun: 1981


Novel Kubah melukiskan pengalaman lahir batin seorang bekas tahanan politik. Jiwanya memperoleh kebebasan ketika membuat kubah untuk masjid di kampung halamannya. 


Kubah adalah novel kedua Ahmad Tohari yang didasarkan pada peristiwa Gerakan 30 September 1965.

 

Menurut Gusdur, novel Kubah berisi gagasan besar rekonsiliasi pasca peristiwa 1965 yang ditulis paling awal yakni tahun 1979 dan terbit dua tahun kemudian. Novel ini memenangkan penghargaan sastra tahun 1981 dari Yayasan Buku Utama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan diterjemahkan ke bahasa Jepang pada tahun 1986.

Ronggeng Dukuh Paruk

Tahun: 1982 – 1986

 

Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk terdiri dari Catatan Buat Emak, Lintang Kemukus Dini Hari, dan Jantera Bianglala.  Tahun 2003, Gramedia menerbitkan versi penyatuan tiga novel tersebut dengan memasukkan kembali bagian-bagian yang tersensor di masa kekuasaan pemerintahan Orde Baru (Orba) di Indonesia.

Bekisar Merah

Tahun: 1993

 

Bekisar Merah pertama kali terbit sebagai cerita bersambung dalam surat kabar Kompas pada bulan Februari sampai dengan Mei 1993. 

 

Cerita bersambung tersebut kemudian diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama dalam bentuk buku pada tahun yang sama, yaitu tahun 1993.

Lingkar Tanah Lingkar Air

Tahun: 1995

 

Lingkar Tanah Lingkar Air mulanya terbit di koran Republika sebagai cerita bersambung pada tahun 1990. Novel ini juga pernah diterbitkan oleh PT Harta Prima (1992) dan LkiS (1995).

Belantik

Tahun: 2001

 

Novel ini merupakan kelanjutan Bekisar Merah. Pusat cerita tentang tokoh bernama Lasi, gadis desa berdarah Jawa dan Jepang yang terseret ke dalam pusaran hidup para elite yang pragmatis dan korup. 

 

Awalnya, melalui lika-liku jaringan bisnis berahi kalangan elite, Lasi yang seorang anak desa rupanya ikut menentukan perilaku dan praktik kekuasaan negara. Namun, di tengah gemerlap kehidupannya sebagai orang kota, ia merasa kehilangan jati diri ketika kehidupan ala orang-orang kaya Jakarta sangat memanjakannya.

Orang-orang Proyek

Tahun: 2002

 

Novel ini menceritakan tentang tokoh Kabul, seorang insinyur proyek pembangunan jembatan di sebuah desa. Bagi Kabul, seorang insinyur yang mantan aktivis kampus, sungguh suatu pekerjaan sekaligus beban psikologis yang berat. “Permainan” yang terjadi dalam proyek itu menuntut konskuensi yang pelik. Mutu bangunan menjadi taruhannua, dan masyarakat kecillah yang akhirnya menjadi korban. Dalam keadaan itu, idealisme Kabul diuji lewat sebuah proyek jembatan.

Mas Mantri Gugat

Yogyakarta, Bentang Budaya
Cetakan Pertama
Jumlah Halaman: 192
Tahun: 1994

 

Buku ini berisi esai-esai yang ditulis oleh Ahmad Tohari bertitimangsa 1993, memuat 40 esai yang bertemakan sosial. Selain tersohor sebagai sastrawan yang berbakat, rupanya Ahmad Tohari memiliki kepiawaian dalam menulis esai yang ditulis menggunakan gaya jenaka, bersahaja, namun tetap serius dalam memposisikan persoalan. Kemampuan Ahmad Tohari dalam mengakrabi masyarakat desa dan kota pinggiran membuat esai-esainya terasa hidup hidup dan kaya variasi.

Berhala Kontemporer: Renungan Lepas Seputar Agama, Kemanusiaan, dan Budaya Masyarakat Urban

Surabaya, Risalah Gusti
Cetakan Pertama
Jumlah halaman: 252
Tahun: 1996

 

Buku esai kedua karya Ahmad Tohari ini memuat 77 tulisan. Buku esai ini terbagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama: Islam, Adab, dan Harkat Kemanusiaan. Bagian kedua: Islam, Kebijakan Politik, Ekspresi Kultural dan Hati Nurani. Bagian ketiga: Islam, Realitas Sosial dan Gaya Hidup. Buku esai Berhala Kontemporer: Renungan Lepas Agama, Kemanusiaan dan Budaya Masyarakat Urban lebih berfokus pada tema Islam yang dihubungkan dengan masalah kemanusiaan dan kebudayaan.

Mas Mantri Menjenguk Tuhan

Surabaya, Risalah Gusti
Cetakan Pertama
Jumlah Halaman: 219
Tahun: 1997

 

Mas Mantri Menjenguk Tuhan merupakan kumpulan kolom Ahmad Tohari di harian Suara Merdeka dan terbit sekitar pada masa periode akhir pemerintahan Orde Baru. Ahmad Tohari menyajikan cerita layaknya penulisan dan penceritaan sebuah cerita pendek. Banyak sekali perwatakan tokoh yang dapat dirasakan langsung oleh pembacanya. Ada Mas Mantri yang arif dan bijaksana, Den Besus, Kang Martopacul, Mbak Nyus, dan nama-nama lainnya yang seakan mewakili sejumlah segmen yang mewakili strata sosial masyarakat, lengkap dengan latar belakang sosial dan karakter masing-masing.

Alquran dan Terjemahannya: Bahasa Jawa Banyumasan

Penerbit: Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan, Badan Litbang dan Diklar Kementerian Agama RI
Cetakan Kedua
Jumlah halaman: 885
Tahun: 2016

 

Karya ini merupakan Alquran dan terjemahannya dalam bahasa Banyumasan. Karya ini dibuat atas inisiasi Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan, Badan Litbang dan Diklar Kementerian Agama RI bekerja sama dengan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Purwokerto. Karya ini adalah karya pertama berupa Alquran dengan terjemahan dengan menggunakan bahasa Banyumasan.

Senyum Karyamin (1989)

Kumpulan Cerpen
Jakarta, PT Gramedia
88 halaman

 

Senyum Karyamin berisi 13 cerpen yang ditulis oleh Ahmad Tohari antara tahun 1976-1986. 

 

Cerpen Minem Beranak Bayi dari buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris berjudul “Minem Has a Baby”, termuat dalam buku Menagerie, 1 terbitan The Lontar Foundation

Nyanyian Malam (2000)

Jakarta, Grasindo bekerja sama dengan Adikarya IKAPI dan The Ford Foundation
93 halaman

 

Kumpulan cerpen ini berisi sepuluh cerpen Ahmad Tohari yang pernah terbit di berbagai media massa cetak antara tahun 1983-1997.


Salah satu cerpen dalam buku ini, “Warung Penajem” masuk dalam antologi cerpen ASEAN bertajuk Orang di Jambatan (2001).

Rusmi Ingin Pulang (2004)

Yogyakarta, Penerbit Matahari
106 halaman

 

Rusmi Ingin Pulang berisi lima cerpen yang memiliki tema yang sama, yaitu perempuan di masyarakat. Setiap cerita yang ditulis Ahmad Tohari dalam kumpulan cerpen ini memperlihatkan sisi masyarakat dalam menilai perempuan.

Mata yang Enak Dipandang (2013)

Jakarta, Gramedia Pustaka Utama
216 halaman

 

Mata yang Enak Dipandang berisi 15 cerita pendek yang telah diterbitkan di berbagai surat kabar antara tahun 1983-1997. Serupa dengan tulisan-tulisannya yang lain, cerita-cerita dalam buku ini kebanyakan mengangkat kisah orang-orang kecil dengan segala lika-likunya.

Tawa Gadis Padang Sampah (2017)

Yogyakarta, Kunca Wacana
124 halaman

 

Kumpulan cerpen ini memuat tujuh cerpen Ahmad Tohari yang ditulis tahun 2014-2017. 

 

Salah satu cerpen dalam buku ini, “Anak Ini Mau Mengencingi Jakarta?”, dinobatkan sebagai cerpen terbaik Kompas 2015.

Mesin tik Ahmad Tohari yg melahirkan banyak karya sastra. Ini menambah mesin tik koleksi @FadliZonLibrary yaitu mesin tik Taufiq Ismail, Asrul Sani, Rosihan Anwar, Daoed Joesoef, Harmoko, dll. pic.twitter.com/zjimqbKWFO

— FADLI ZON (Youtube: Fadli Zon Official) (@fadlizon) December 9, 2018

Kamus Dialek Banyumas-Indonesia

Penulis: Ahmad Tohari, M. Koderi, Fajar P.
Penerbit: Banyumas, Yayasan Carablaka
Jumlah halaman: 334
Tahun: 2014

 

Sesuai dengan judulnya, kamus ini adalah kamus dua bahasa, yakni Bahasa Jawa Banyumas dan Indonesia. Kamus ini menjadi kamus berbahasa Banyumas pertama yang ditulis.

ANCAS Kalawerta Panginyongan

Majalah
Pimpinan Redaksi: Ahmad Tohari
Penerbit: Banyumas, Yayasan Sendang Mas

 

ANCAS adalah majalah pertama di Banyumas yang menggunakan bahasa Jawa Banyumasan. Majalah ini terbit setiap bulan sejak tahun 2010. ANCAS secara garis besar berisi informasi tentang politik, ekonomi, sosial, dan budaya. ANCAS juga menyediakan kolom sastra melalui rubrik cerkak dan geguritan.

Ruang Tengah

Piala Kompas

Apresiasi Kekaryaan

Puisi "Pesta Ungu"

Piala Anugerah Cerpen Kompas

Menjadi seorang juru cerita, torehan prestasi Ahmad Tohari dimulai dari memperoleh penghargaan Sayembara Kincir Emas 1975 Cerpen dalam Bahasa Indonesia yang diselenggarakan Radio Nederland.

 

Langkah kepengarangan Ahmad Tohari punya jejak panjang. Pada tahun 2015 dan 2020, ia menerima anugerah cerpen Kompas untuk “Anak Ini Mau Mengencingi Jakarta?: Cerpen Pilihan Kompas 2015″ dan “Mereka Mengeja Larangan Mengemis: Cerpen Pilihan Kompas 2019″. 

 

Piala anugerah cerpen Kompas dideskripsikan sebagai imajinasi kepak sayap malaikat, yang menuntun daya kreasi penulis untuk mencapai keluasan lanskap pikiran. Seniman Nyoman Nuarta menciptakan karya indah berwujud malaikat kata-kata itu pada tahun 2010. Deskripsi piala anugerah Kompas dapat disimak di link berikut: https://www.youtube.com/watch?v=UncD1DzXVdA

Penulis: Yudiono K.S.
Tebal: viii+ 156
ISBN: 979-732-281-5

 

Buku ini mengidentifikasi ciri-ciri paling menonjol dalam karya AT baik novel maupun cerpen. Ciri pertama, novel-novel yang berwarna geger politik 1965, yaitu Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dini Hari, Jantera bianglala, Lingkar Tanah Lingkar Air, dan Kubah. Ciri kedua, novel-novel yang berwarma korupsi sebagai dampak pembangunan, yakni Di Kaki Bukit Cibalak, Bekisar Merah, Belantik, dan Orang-Orang Proyek. Ciri ketiga, cerpen-cerpen dalam Senyum Karyamin dan Nyanyian Malam yang berwarna pelangi kehidupan sosial.

Penyunting: Arnellis
Kumpulan Esai
Tebal: 144 halaman
Tahun: 2006

 

Menimang Ulang Ronggeng Dukuh Paruk adalah kumpulan esai yang memuat kritik-kritik terhadap novel Ronggeng Dukuh Paruk. Buku ini memuat 9 esai yang ditulis oleh F. Rahardi, Ahmad Tohari, Fakhrunnas M. A. Jabbar, Jakob Sumardjo, Sapardi Djoko Damono, Eko Endarmoko, dan Maman S. Mahayana.

Baca tulisannya di tautan ini:
https://frahardi.wordpress.com/polemik/ronggeng-dukuh-paruk/

Penulis: Hadi Supeno
Penerbit: Banjarnegara, AktorPublishing
Tebal: 127 halaman
Tahun:2022

 

Buku ini membahas tentang proses kreatif Ahmad Tohari yang ditulis oleh Hadi Supeno berdasarkan data wawancaranya dengan Ahmad Tohari. Buku ini juga memuat tribute testimoni untuk Ahmad Tohari dari para pelaku seni terkemua Indonesia seperti Happy Salma, Gunoto Saparie, Suminto A Sayuti, RM Teguh Suoriyanto, dan Denny JA.

Penulis: Teguh Trianton
Penerbit: Jejak Pustaka
Tebal: 284 hlm

 

Ulasan buku dapat disimak di:
https://alif.id/read/pws/sastra-banyumas-di-tengah-hegemoni-budaya-b242390p/

Pesta Ungu

dari buku "Binatang Suci Teluk Penyu"

Puisi “Pesta Ungu” ditulis oleh penyair Badruddin Emce di dalam buku Kumpulan puisi Binatang Suci Teluk Penyu (Olongia. 2007). Puisi ini ditulis oleh Badruddin Emce saat ia kerapkali berkunjung ke kediaman Ahmad Tohari di Tinggarjaya, Jatilawang, Banyumas, Jawa Tengah dalam serangkaian kegiatan perbincangan kesustraan. 

 

Baruddin Emce merupakan penyair yang lahir dan berproses kreatif di Kroya, Kabupaten Cilacap. Puisi-puisinya terkumpul dalam manuskrip Ledakan pada Pohon Randu (1999), Pasar Malam Alun-Alun Kroya (2001), buku Kumpulan puisi Binatang Suci Teluk Penyu (Olongia. 2007) dan Diksi Para Pendendam (Akar Indonesia. 2011).

Ruang Tengah

Audio Book

Ronggeng di Tengah Prahara

Darah Mahkota

Sang Penari

Orang Buta & Penuntunnya

On the Record: Indonesian Literary Figures Volume 4

*Cubit layar smartphone untuk memperbesar gambar

Ronggeng di Tengah Prahara

Pentas Teater
Sutradara: Rijal Nur R
Produksi: Teater Proses 
Tahun: 2023 

 

Sebuah pertunjukan teater dengan mengadaptasi novel Ronggeng Dukuh Paruk. Pentas ini merupakan produksi ke 16 dari Teater Proses Universitas Wijayakusuma Purwokerto. 

Darah dan Mahkota Ronggeng

Film Fiksi, 96 menit
Sutradara: Yazman Yazid
Skenario: Satmowi Atmowiloto, Rachmat Ryadi, Eddy Suhendro
Produksi: PT. Gramedia Films
Pemain: Enny Beatrice, Hassan Sanusi, Dhalia, Ray Sahetapy, Syamsuri Kaempuan
Tahun: 1983

 

Alih wahana Ronggeng Dukuh Paruk ke film pertama kali diproduksi oleh PT Gramedia Film tahun 1983. Judul film itu Darah dan Mahkota Ronggeng yang disutradarai oleh Yasmin Yazid.

Sang Penari

The Dancer (2011) on IMDb

Film Fiksi, 112 menit 
Sutradara: Ifa Isfansyah
Skenario: Salman Aristo, Ifa Isfansyah, Shanty Harmayn
Produksi: KG Production, Indika, Salto Films, Les Petites Lumieres
Pemain: Pia Nasution, Oka Antara, Slamet Rahardjo, Dewi Irawan, Lukman Sardi, Tio Pakusadewo
Tahun: 2011

 

Rasus adalah remaja muda yang jatuh cinta namun hidup dalam kemiskinan di desa kecil di tahun 1960-an. Gadis yang dicintainya itu bernama Srintil, seorang penari yang dikaruniai jurus-jurus menari yang konon memiliki kesaktian. Suatu ketika Rasus harus meninggalkan desa untuk bergabung dengan pasukan tentara.

Orang Buta dan Penuntunnya

Film Fiksi Pendek, 15 menit
Sutradara: Bowo Leksono
Produksi: Laeli Leksono Film
Tahun: 2004

 

Lika-liku kehidupan seorang pengemis buta dan penuntunnya. Bagaimana mereka mengais rezeki di tengah hiruk-pikuk kehidupan?
Film ini tayang di TVRI Nasional Jakarta Tahun 2004.

On the Record: Indonesian Literary Figures Volume 4

Cakram DVD, 25 menit
Sutradara: Shanty Harmayn

 

Ahmad Tohari (l. 1948), terkenal karena novel-novelnya sekitar tahun 1965, menunjukkan simpati kepada kaum tertindas yang sangat kontras dengan ajaran Muslim ortodoksnya sendiri.

RDP Instrumental
by Astakiri

  • Beranda
  • Tentang
    • Tentang MVAT
    • Tokoh Sampul
  • Rilis
  • Produk
  • Kontak